ilmu yakin kepada allah

Ilmudan Takdir Allah - Radio Rodja 756 AM. MENGINGKARI TAKDIR ALLAH ADALAH KEKAFIRAN - Taawundakwah Termasuk daripada Iman kepada Allah adalah Bersabar atas Takdir Allah SWT. endah puspita on Twitter: "Belajar n berusaha menerima takdir. Yakin bahwa takdir Allah adalah yg terbaik. "Kisah Yang Membuktikan Takdir Allah Adalah Yang KeadilanPoligami Perspektif Gender Studi Perubahan Sosial Dalam Kitab Nazhariyah Al- Maqashid Karya Ibnu Asyur Subur Wijaya Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 16 No. 1 (2016): Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Dariuraian dan penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa yakin dan tawakkal kepada Allah Swt sangatlah penting untuk menjaga keimanan kita agar tetap utuh, sebab ia merupakan pondasi agama bagi umat Islam. Jikailmu orang yang paling tinggi dibandingkan dengan ilmu Allah, menjadi uncomparable, bahkan bisa diabaikan," terangnya. Selanjutnya, Allah bertanya, "Mana yang lebih baik hukumnya dibandingkan hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?" Ini karena Allah yang Mahatahu seperti apa hakikat manusia secara fisik dan nonfisik, termasuk Ilmutidak akan tertipu oleh mata karena memiliki alat verifikasi dalam diri setiap manusia. Itulah keutamaan akal yang Allah berikan kepada kita. Selain itu, ilmu dapat mengantarkan manusia kepada ibadah yang lebih baik. Sayidina Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, "Tidur dalam keadaan yakin lebih baik daripada beribadah dalam keadaan ragu." Site De Rencontre Pour Parent Célibataire. KEYAKINAN merupakan hak yang dimiliki individu dalam mempercayai suatu hal, baik itu keyakinannya terhadap benda, manusia, maupun terhadap Sang Pencipta. Keyakinan terhadap Sang Pencipta Allah haruslah menjadi dasar keimanan seseorang dalam perannya sebagai hamba Allah SWT. Adapun tingkat keyakinan yang harus dimiliki seseorang di antaranya Ilmul-Yaqiin Prasyarat untuk tingkat kepastian ini adalah ilmu/pengetahuan’. Istilah Bahasa Arab untuk ilmu’ adalah ilm dan Bahasa Arab untuk kepastian’ adalah yaqiin’. Dengan demikian istilah Arab yang digunakan oleh Alquran untuk kepastian yang berdasarkan pengetahuan adalah ilmul-yaqiin. BACA JUGA Takwa Memiliki Tiga Tingkatan “Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin”.QS. At-Takatsur 5 Pada tingkat ilmul-yaqiin, orang beriman dan para pencari Tuhan yakin kepada Tuhan Allah SWT bukan karena merasakan langsung wujud-Nya, namun berdasarkan deduksi dari fakta-fakta yang terletak dalam batas-batas pengetahuannya. Pada dasarnya ia percaya pada hal ghaib yang dalam istilahnya adalah imaan bil Ghaib, yang berarti percaya pada yang ghaib’. Orang pada tingkat ini dianalogikan seperti api dan asap. Ia memang belum melihat api itu sendiri, tetapi setelah menyaksikan asap, ia berkesimpulan bahwa api memang harus ada. Ainul-Yaqiin Istilah bahasa Arab untuk melihat’ adalah ain, karenanya Bahasa Arab untuk kepastian berdasarkan pengataman/kesaksian’ adalah ainul-yaqiin. ” …Kemudian kamu pasti akan melihatnya dengan mata yakin.” QS. At-Takatsur 8 Ayat ini menarik perhatian kita pada fakta bahwa pada tingkat ainul-yaqiin, seorang beriman yakin kepada Allah SWT dengan cara apa yang secara kiasan disebut dengan melihat secara langsung’ direct perception” penampakan-Nya. Bagi manusia, yang indera fisiknya hanya menanggapi stimulus materi, menyaksikan penampakan-Nya jelas bukan dalam arti pertemuan fisik dengan wujud Allah SWT. Menyaksikan penampakan Allah SWT hanya dapat berarti menjadi saksi akan manifestasi Keilahian-Nya yang nampak dengan jelas. Masifestasi tersebut meliputi penerimaan ajaib dari doa- doanya dan penyatuan ilahiah’. Doa-doa orang beriman mulai menemukan pengabulan yang berlimpah. Ketika ia berdoa untuk sesuatu, ia menemukan limpahan karunia Ilahi mengarah pada doanya. Oleh karena itu pada tingkat kepastian ini, orang beriman tidak lagi bergantung pada kesimpulan logis mengenai keberadaan Allah SWT. Pada tingkat ini, seolah-olah ia telah melihat sendiri Allah SWT dengan mata kepalanya sendiri. Meskipun keadaan iman bil ghaib’ terus berlaku, orang beriman menjadi lebih dekat lagi dengan dunia ghaib daripada ketika ia berada pada tingkat ilmul-yakiin. BACA JUGA Orang yang Meminta Fatwa Harus Menghiasi Dirinya dengan Ketakwaan Haqqul-Yaqiin Bahasa Arab untuk “kebenaran mutlak” absolute truth adalah Haqq. sedangkan bahwa Arab untuk kepastian seperti yang telah kita bahas adalah Yaqiin. Oleh karena itu istilah Haqqul Yaqiin menunjukkan tingkat kepastian yang sempurna tentang Tuhan. “Sesungguhnya yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar.” QS. Al-Waqiah 95 Pada tahap ini orang beriman yakin kepada Allah SWT karena ia telah merasakan sifat-sifat Allah SWT secara lebih lengkap, seolah-olah semua cara persepsi yang tersedia baginya telah sampai pada hubungan langsung dengan Keindahan dan Kemuliaan Allah SWT. Pada tahap ini orang beriman telah diberkati dengan limpahan yang lebih besar berupa wahyu Ilahi. Pada tahap ini, doa sang pencari Tuhan begitu derasnya diterima dan dijawab, dimana setiap doa menjadi sebuah keajaiban dalam dirinya sendiri. Nabi Allah SWT dan orang-orang suci berada dalam wilayah kepastian agung ini. Ini adalah tingkat tertinggi dari iman dan kepastian. Dengan kita mengetahui tingkatan keyakinan seperti yang telah di paparkan di atas, semoga menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Aamiin. [] Tingkatan tertinggi iman adalah hadirnya ”yakin” dalam diri seorang mukmin, sehingga ia benar-benar melihat janji Allah ada di depan matanya. Janji Allah itu benar adanya, hanya saja kabut yang menutup iman menjadi penghalang hadirnya yakin di hati. Yakin di dalam dada Khalilullah-Ibrahim- yang membuat iya nyaman manakala dicampakkan Namrud ke dalam api, bahwa Allah pasti kan selamatkannya. Yakin yang membuncah dalam dada Kalimullah-Musa- yang membuat ia tenang melihat jalan buntu di depan lautan, sementara Firaun dan bala tentaranya sudah terlihat dibelakang, bahwa Allah akan menyelamatkannya. Yakin Ibunda Hajar-Uminya Ismail- bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakannya, meski di tinggal di lembah gersang tak ada padanya kehidupan, yang membuat ia selamat dan menjadi orang pertama yang mendiami Tanah Haram yang padanya ada Baitullah. YAKIN DALAM BERINFAQ Sering seseorang berinfaq untuk agama Allah diuji keimanannya, apakah benar Allah kan menggantikan apa yang dia Infaq-kan di Jalan Allah..? Sementara hartanya sudah menipis bahkan habis, tetapi janji Allah tak kunjung muncul juga. Dalam kondisi kritis itulah “ilmu tentang yakin” kita kan teruji. Sebagaian kita ada yang akhirnya menghentikan infaq-nya karena kecewa dengan janji Allah yang tak terwujud -menurut sangkaannya- karena lemahnya iman dan tipisnya perasangka baik pada Allah. Kesalahan fatal hamba adalah, tatkala ia berinfaq, ia sedang mencoba Allah-subhanahu wa ta’ala- apakah benar atau tidak janji-Nya. Akhirnya Allah menghukumnya dengan kebalikan apa yang dia harap. ALLAH JANGAN DICOBA-COBA Adapun hamba yang full keimanannya, ia yakin Allah pasti kan menggantikan apa yang ia infaq-kan. Tidak ada keraguan walau sebiji sawi dalam hatinya akan janji Allah, karena itulah Allah mewujudkan apa yang dia yakini. Kawan.. Pertebal imanmu dalam berinfaq, dan tak usah mencoba-coba Allah, kelak kau akan kecewa. ———- Ditulis oleh, Ustadz Abu Zubair Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى Menebar Cahaya Sunnah Saat keluar dari gedung-gedung perkantoran atau hotel yang punya pintu otomatis, kita yakin bahwa pintu otomatis akan terbuka saat kita akan keluar sehingga kita yakin tidak akan terjebak di dalam gedung/hotel. Untuk masalah pintu buatan manusia saja kita bisa yakin, maka seharusnya kita lebih yakin kepada Allah pencipta sudahkah kita yakin dengan firman Allah, "fainna ma'aal 'usri yusro. Inna ma'al 'usri yusro"? Diulang dua kali, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bahkan ada ahli tafsir menyatakan satu kesulitan, akan ada dua kemudahan. Namun, mengapa kita sering tidak yakin bahwa selalu ada jalan keluar otomatis dari Allah atas setiap masalah kita?Banyak dari kita, saya juga kadang termasuk, sering merasa kekurangan rezeki, padahal di Al Quran diulang-ulang ayat bahwa Allah menjamin rezeki semua mahkluknya, dari yang terbesar sampai terkecil. Percaya kepada Al Quran merupakan rukun iman. Dengan demikian sudah tidak pantas kita meragukan janji Allah tentang rezeki di Al Quran tersebut. Namun demikian, terkadang kita tidak tahu, hikmah di balik setiap peristiwa. Dasar manusia sukanya mengeluh, persis seperti diceritakan Al Quran. Diberi sakit, mengeluh, kehilangan uang mengeluh, bisnis rugi mengeluh, diberi kesusahan sedikit saja mengeluh, seolah lupa bahwa Allah Maha Teliti, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pemberi, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Jadi tidak mungkin peristiwa dan apapun yang diciptakan Allah tidak ada gunanya. Sekiranya manusia bersyukur, maka tentu Allah menambah nikmat-Nya. Demikian pula, sebaik-baik doa, artinya termasuk saat kesusahan, adalah Alhamdulillah. Kalaulah dibukakan sedikit saja pintu hikmah, kita akan melihat setiap peristiwa yang terjadi pada kita, adalah baik bagi kita. Seorang siswa yang gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri PTN, perlu baik sangka dan bersyukur pada Allah, karena bisa jadi, dengan gagal kuliah di PTN, menjadi gagal menjadi pejabat yang kelak kemudian hari ternyata korupsi, dan ditangkap KPK. Sehingga gagalnya masuk ke PTN menjadikan ia orang baik-baik hingga akhir hayat, tanpa perlu ditangkap KPK. Bahkan seorang yang ditangkap KPK pun perlu bersyukur, karena Allah mengingatkan kelakuannya di dunia, sehingga masih ada kesempatan bertaubat. Banyak cerita wali Allah semula adalah orang-orang tidak baik, yang kemudian bertaubat. Bahkan Nabi Yusuf yang dimusuhi dan dimasukkan ke sumur pun ternyata ada hikmahnya sehingga ia menjadi pejabat dan diangkat menjadi nabi. Jadi mari belajar bahwa setiap peristiwa ada hikmahnya. Setiap masalah ada belajar dari kisah Nabi Musa. Saat ditantang oleh sekumpulan ahli sihir pilihan Firaun, Nabi Musa tidak punya strategi apapun untuk menghadapi mereka. Nabi Musa hanya yakin bahwa Allah akan menolongnya. Ketika ditanya oleh para ahli sihir, siapa yg beraksi duluan, Nabi Musa mempersilakan ahli sihir beraksi duluan. Ahli sihir membuat ular dari sihirnya. Setelah ahli sihir beraksi, Nabi Musa masih belum tahu cara menghadapi ahli sihir tersebut. Barulah turun perintah Allah agar Nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular besar yang memakan ular-ular dari ahli sihir sehingga para ahli sihir menyerah dan beriman kepada Tuhannya Nabi kisah lain, ketika Nabi Musa dan rombongannya dikejar oleh Firaun dan tentaranya sehingga terjebak di pinggir lautan, secara akal manusia, Nabi Musa dan rombongannya akan tertangkap Firaun. Rombongan Nabi Musa sudah ketakutan akan terbunuh oleh Firaun dan tentaranya. Namun, lagi-lagi Nabi Musa yakin Allah akan menolongnya. Barulah turun perintah untuk memukulkan tongkat Nabi Musa sehingga lautan berubah menjadi daratan, dan selamatlah Nabi Musa dan salah tangkap, bukan tongkat Nabi Musa yang ajaib. Itu hanya tongkat biasa, namun karena Allah yang menurunkan perintah, maka apapun bisa terjadi. Kalau Allah mau, selalu saja ada jalan atas setiap masalah. Kun fayakun. Pertanyaannya, sudahkah kita mendekat pada Allah? Sudah yakin pada Allah?Nasehat untuk semua, terutama untuk diri Jumat, semoga Allah memberkahi kita! Orang-orang musyrik yang mencari Rasulullah telah sampai di goa Tsur. Tempat Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersama sahabat beliau Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bersembunyi sebelum hijrah ke Madinah. Sekiranya mereka melongokkan wajah ke dalam goa, tentu Rasulullah akan kelihatan. Saat itulah Abu Bakar sangat cemas memikirkan keselamatan Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam. Namun dengan tenang Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا ، لاَ تَحْزَنْ ، إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Bagaimana persangkaanmu dengan dua orang sedangkan yang ke tiganya adalah Allah, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita.” Itulah keyakinan yang menghujam dalam jiwa Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam. Sehingga meskipun keadaan demikian genting, beliau tetap yakin dengan pertolongan Allah. Yakin merupakan pilar keimanan. Bahkan yakin inti keimanan. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Kedudukan yakin dalam keimanan adalah seperti kedudukan ruh bagi jasad.” Yakin termasuk pemberian yang paling berharga di dunia ini. Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan sahabat Abu Bakar Radhiyallahu Anhu يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ الناس لَمْ يُعْطَوْا فِي الدُّنْيَا خَيْرًا مِنَ الْيَقِينِ ، وَالْمُعَافَاةِ ، فَسَلُوهُمَا اللهَ ، عَزَّ وَجَلَّ.أخرجه أحمد 1/838 “Wahai manusia sesungguhnya manusia tidak diberi di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada yakin dan keselamatan. Maka mintalah kedua hal tersebut kepada Allah.” HR. Ahmad, dhaif. Karakter Orang yang Memiliki Keyakinan Yakin dengan Perkara Ghaib Perkara ghoib yaitu yang tidak terindera, seperti kematian, siksa atau nikmat kubur, dan jannah serta neraka. Orang yang yakin sangat kuat keyakinannya dengan hal-hal ghaib ini sehingga mereka bersemangat untuk mengejar ridha Allah dan jannah-Nya. Allah berfirman artinya “Kitab Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab Al Quran yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” Al Baqarah 1-4. Keyakinan yang kuat ini menjadikan Umair bin Hammam Radhiyallahu Anhu saat perang Badar tidak mau berlama-lama menikmati kurma perbekalannya. Saat Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam menyeru kepada para sahabatnya “Bangkitlah menuju jannah yang seluas langit dan bumi.” Umair bin Humam berkata, “Ya Rasulallah, Jannah seluas langit dan bumi?” Beliau menjawab, “Ya.” Umair Radhiyallahu Anhu berkata, “Bakh.. bakh.” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu berkata bakh..bakh?” Umair berkata, “Tidak ya Rasulullah, kecuali saya berharap bisa menjadi penghuninya.” Beliau Shallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Engkau termasuk salah satu penghuninya.” Maka Umair bin Humam Radhiyallahu Anhu pun mengeluarkan kormanya dan memakan sebagiannya. Kemudian beliau berkata, “Jika harus memakan korma-korma ini tentu kehidupan yang terlalu lama.” Kemudian beliau maju berperang sampai terbunuh, rahimahullah, semoga Allah merahmatinya. Diriwayatkan oleh Ahmad. Dan kisah kisah semisal begitu banyak dalam kehidupan salaf karena kuatnya keyakinan mereka dengan hal yang ghaib. Yakin dengan Rizki dari Allah Ahlu yakin adalah orang yang telah terpateri dalam dirinya bahwa rizki telah terbagi. Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada istri beliau, Ummu Habibah Radhiyallahu Anha قَدْ سَأَلْتِ اللَّهَ لآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ “Engkau telah meminta kepada Allah jatah ajal yang telah ditentukan, hari hari usia yang telah dipastikan, dan rizki yang telah dibagikan. Semua itu tidak akan disegerakan sebelum datang masanya dan juga tidak akan diakhirkan setelah datang masanya.” Shahih Muslim. Bagus sekali perkataan penyair sebagai bahan renungan تَوَكَلْتُ فِيْ رِزْقِي عَلَى اللهِ خَالِقِي **** وَأَيْقَنْتُ أَنَّ اللهَ لَا شَكَّ رَازِقِي وَمَا يَكْوْنُ مِنْ رِزْقِي فَلَيْسَ يَفُوْتُنِي **** وَلَوْ كَانَ فِي قَاعِ البِحَارِ العَوَامِقِ سَيُأْتِي بِهِ اللهُ الْعَظِيْمُ بِفَضْلِهِ **** وَلَوْ لَمْ يَكَنْ مِنِّي اللِسَانُ بِنَاطِقٍ فَفِيْ أَيِّ شَيْءٍ تَذْهَبُ النَفْسُ حَسْرَة **** وَقَدْ قَسَّمَ الرَّحْمَنُ رِزْقَ الْخَلَائِقِ Saya bertawakkal kepada Penciptaku dalam masalah rizkiku Dan saya tidak ragu sedikitpun bahwa Allah lah yang akan memberi rizki kepadaku Apa yang menjadi jatah rizkiku tidak mungkin terlepas dariku Meskipun ia berada di kedalaman lautan Allah Yang Maha Agung dengan keutamaannya akan mendatangkannya untukku Meskipun sekiranya lisankutidak bisa berbicara Lalu mengapa jiwa harus merasa gelisah Padahal Ar Rahman telah membagi rizki seluruh makhluk. Yakin dengan Al Qur’an sebagai Panduan Kehidupan Allah berfirman وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ سورة السجدة 24 . “Dan kami jadikan di antara mereka para pemimpin yang memberi petunjuk dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan mereka yakin dengan ayat ayat kami.” As Sajdah 24. Orang beriman yang hatinya dipenuhi keimanan akan mensikapi Al Qur’an bukan sekedar untuk bacaan saja. Melainkan sebagai panduan kehidupan. Apapun urusannya rujukannya adalah kitabullah dan diperjelas dengan sunnah Rasulullah n. Terhadap perintah-perintah Allah mereka bagaikan prajurit mendengar perintah komandannya. Kata yang muncul adalah kami mendengar dan kami patuh. Mereka berusaha kuat untuk merealisasikan ayat dalam ranah kehidupan. Mereka benar-benar yakin dengan firman-Nya “Kebenaran datangnya dari Rabbmu maka janganlah sekali kali kalian menjadi golongan orang yang ragu ragu.” Al Baqarah 147. Yakin hanya Allah yang Dapat Memberi Manfaat dan Bahaya Keyakinan ini terbina dari taujih rabbani dan taujih Rasulullah, sehingga menancap dalam relung hati bahwa tidak ada yang bisa memberi manfaat dan bahaya kecuali atas kehendak dan kekuasaan Allah. Firman-Nya وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ سورة يونس 107. “Jika Allah menimpakan bahaya kepadamu maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia dan jika Allah menghendaki kebaikan padamu maka tidak ada yang bisa menghalangi karunia-Nya, yang akan menimpa kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” Yunus107. Demikian pula Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَىْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَىْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ “Ketahuilah bahwa sekiranya ummat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, tidak mungkin mereka mampu memberi manfaat kepadamu kecuali sesuai dengan apa yang ditakdirkan padamu. Dan sekiranya mereka berkumpul untuk memberikan bahaya kepadamu, maka mereka tidak mungkin bisa membahayakanmu kecuali sesuai dengan apa yang ditakdirkan untukmu.” Sunan At Tirmidzi. Keyakinan yang kuat bahwa manfaat dan bahaya hanya terjadi atas takdir Allah, membuat seseorang menjadi tenang dalam kehidupannya. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata الرِّضَا أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ، وَلَا تَحْمَدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهِيَةُ كَارِهٍ، وَاللهُ بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسَّخَطِ شعب الإيمان , للبيهقي 1/384. “Ridha yaitu engkau tidak mencari ridha manusia dengan mengundang kemurkaan Allah. Dan engkau tidak memuji seorangpun atas rizki pemberian Allah dan tidak mencela seorangpun atas sesuatu yang belum Allah berikan kepadamu. Sesungguhnya rizki itu tidak mesti Dia berikan kepada orang ingin sekali mendapatkannya. Dan tidak terhalang dari orang yang tidak menghendakinya. Allah dengan keadilan dan ilmunya menjadikan ketenangan dan kegembiraan pada sifat yakin dan ridha, dan menjadikan kegundahan dan kesedihan dalam keraguan dan kemarahan terhadap takdir.” Syu’abul Iman, Al Baihaqi. Yakin dan Siap Menghadapi Hidup setelah Mati Mereka adalah orang yang relung hatinya dipenuhi keyakinan bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara. Bahwa mereka akan segera menuju kematian kemudian menghadapi alam barzakh dan alam akhirat. Semua amal di dunia akan dihisab Sang Pencipta. Keyakinan yang menguat inilah yang menjadikan arah hidup mereka di dunia jelas. Mereka sibuk beramal shalih untuk bekal kehidupan setelah mati, bukan menghabiskan waktunya untuk meramaikan kemegahan dunia. Potensi kehidupan yang mereka miliki tidak segan-segan dikorbankan untuk Allah demi meraih ridha dan jannah-Nya. Contoh nyata efek keyakinan terhadap hari akhir adalah seperti yang terjadi pada para penyihir Fir’aun yang telah bertaubat. Allah berfirman artinya Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata “Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa”. Berkata Fir’aun “Apakah kamu telah beriman kepadanya Musa sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. Mereka berkata “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata mukjizat, yang telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang telah menciptakan kami; maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.” Thaha 71-72. Orang-orang yang di dunia yakin inilah yang di akherat meraih keberuntungan. Firman-Nya artinya “Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata “Ambillah, bacalah kitabku ini”. Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai.” Thaha19-21. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang orang yang yakin, sebagai bukti keimanan kita. Wallahu a’lam bish shawwab. Disebut yaqin, yakin atau percaya, apabila keyakinan itu tidak mengandung sedikit pun keraguan. Kalau masih ada sedikit keraguan, maka disebut zhann dugaan. Kalau masih setengah-setengah, disebut syakk 50-50. Dan kalau lebih banyak ragunya, disebut wahm. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam Kitab al-Qamus al-Muhith اليقين إزاحة الشك “Yakin yaitu hilangnya keraguan.” Dan dalam Kitab at-Ta’rifat oleh Imam al-Jurjani اليقين تحقيق التصديق بالغيب بإزالة كل شك وريب “Yakin yaitu benar-benar percaya kepada hal-hal yang ghaib dengan dihilangkannya sikap ragu-ragu.” Namun demikian, orang yakin itu tidak sama, meskipun sama-sama yakin tanpa adanya keraguan sedikit pun. Jadi orang percaya atau yakin itu bertingkat-tingkat. Seperti istilah susu sapi asli. Meskipun sama-sama asli, namun beda kualitasnya. Demikian pula madu. Meskipun asli tanpa campuran apapun, namun seringkali berbeda kualitasnya antara madu yang satu dengan madu yang lain. Berangkat dari sinilah kemudian ada istilah ilmul yaqin, ainul yaqin dan haqqul yaqin. Sama-sama yaqin, namun beda kualitasnya. Baca Juga Memahami Makna Syariat, Thariqat, Hakekat, Makrifat *** Pengertian Ilmu pengetahuan yang sudah tersusun secara rapi dan sistematis. Lawannya jahil atau jahalah, artinya bodoh atau kebodohan. Ain mata. Alat untuk melihat dan mengkonfirmasi berita yang diperoleh sebelumnya. Haqq kebenaran yang sejati. Puncak dari ilmu yang sudah dikonfirmasi dan dirasakan sendiri. 1. Ilmul Yaqin Ilmul Yaqin keyakinan yang kita peroleh berdasarkan informasi yang kita percayai kebenarannya, meskipun kita belum pernah melihat dan membuktikannya sendiri. علم اليقين هو ما علمه بالسماع والخبر والقياس والنظر “Ilmul Yaqin yaitu Semua yang diperoleh melalui pendengaran, pengabaran, analogi dan penalaran logika.” 2. Ainul Yaqin Ainul Yaqin keyakinan yang kita peroleh berdasarkan kenyataan yang pernah kita lihat sendiri. عين اليقين هو ما شاهده وعاينه بالبصر “Ainul Yaqin yaitu Semua hal yang disaksikan dan dilihat dengan penglihatan mata.” 3. Haqqul Yaqin Haqqul Yaqin keyakinan yang kita peroleh berdasarkan pengalaman sendiri. Jadi bukan hanya katanya. Bukan pula sekedar melihat. Namun benar-benar melakukan dan mengalaminya sendiri. حق اليقين هو ما باشره ووجده وذاقه وعرفه بالاعتبار “Haqqul Yaqin yaitu Semua yang disentuh, didapati, dirasakan dan diketahui melalui pengalaman sendiri secara nyata.” Baca juga Kaidah Fiqih 2 Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan oleh Keraguan *** Contoh 1 Api itu panas Ketika masih kecil kita memperoleh informasi, bahwa api itu panas. Api berbahaya. Bila tidak hati-hati, kita bisa celaka karenanya. Kita yakin bahwa informasi itu adalah benar, karena semua orang bilang demikian, meskipun kita belum pernah membuktikan sendiri. Keyakinan ini disebut ilmul yaqin. Keyakinan yang hanya berdasarkan informasi belaka. Suatu saat kita melihat tangan seorang teman terkena api, sehingga dia pun menjerit dan menangis kesakitan. Keyakinan kita pun bertambah. Ini disebut ainul yaqin. Karena kita sudah melihatnya sendiri. Kemudian suatu hari tanpa sengaja kulit tangan kita sendiri tersentuh api, dan kita pun merasa sangat kesakitan. Ini disebut haqqul yaqin. Keyakinan berdasarkan pengalaman sendiri. ** Contoh 2 Bebek Goreng Seorang teman dekat bercerita bahwa bebek goreng di Warung Simbok sangat enak dan spesial. Ilmu yaqin. Informasi terpercaya. Karena penasaran kita pun berkunjung ke warung itu. Di situ kita perhatikan pelanggan sangat banyak. Mereka makan dengan sangat lahap. Tidak ada sisa makanan yang tertinggal di piring. Kita pun semakin yakin. Jadi keyakinan kita pun bertambah. Ainul yaqin. Sudah lihat sendiri. Setelah pesanan datang, kita pun membuktikan sendiri nikmatnya sajian bebek goreng itu. Ternyata benar-benar nikmat dan istimewa. Bumbunya lengkap. Dagingnya juga terasa pas. Haqqul yaqin. Karena kita sudah membuktikan nikmatnya bebek goreng itu dengan lidah kita sendiri. Bukan cuma katanya orang. Bukan pula melihat tampilannya. Namun benar-benar merasakannya sendiri. ** Contoh 3 Kasih sayang orangtua Kita memperoleh informasi, bahwa kasih sayang orangtua kepada anaknya itu jauh lebih besar daripada kasih sayang anak kepada orangtuanya. Informasi ini kita peroleh dari berbagai sumber yang terpercaya. Sehingga kita pun menjadi yakin akan kebenaran informasi itu. Namun kita belum pernah melihat bukti real dari informasi itu. Maka informasi ini masuk kategori ilmul yaqin. Suatu hari kita menyaksikan berita di televisi akan kisah nyata tentang kasih sayang orangtua kepada anaknya. Atau kita menyaksikannya sendiri pada peristiwa sehari-hari. Yaitu kasih sayang orangtua sendiri kepada kita. Namun kita baru sebatas menerima, bukan memberi. Semua ini makin memperkuat keyakinan kita, sehingga menjadi ainul yaqin. Nah, apabila kita sudah berkeluarga. Punya suami atau istri sendiri. Kemudian sudah punya anak sendiri, maka kita pun akan sampai pada keyakinan dengan derajat haqqul yaqin. Di situlah kita baru bisa membuktikan sendiri, bahwa kasih sayang orangtua kepada anak itu jauh lebih besar daripada kasih sayang anak-anak kepada orangtua. Baca Juga Tiga Macam Kebenaran Pribadi, Musyawarah, Al-Haqq *** Hikmah Adanya beberapa istilah ini, kita bisa mengambil hikmah di antaranya adalah sebagai berikut – Meskipun sudah sama-sama beriman dengan yaqin, kualitas amal manusia bisa berbeda-beda sesuai dengan tingkatan keimanan atau keyakinannya itu. – Allah memberikan cobaan dan musibah kepada manusia, di antaranya untuk meningkatkan keyakinan dan keimanan. Supaya manusia memiliki pengalamannya sendiri. Bukan hanya melihat pengalaman orang lain, maupun informasi dari orang lain. – Janganlah orang yang sudah sampai pada haqqul yaqin menuntut orang lain yang baru pada tahapan ilmul yaqin dan ainul yaqin untuk sama dengan dirinya. *** Kesimpulan Ilmul yaqin hanya kata orang, namun dari orang yang sangat kita percaya. Sehingga informasi itu membuat kita yakin. Tanpa keraguan sedikit pun. Ainul yaqin kita sudah lihat sendiri. Bukan lagi kata orang. Tambah yakin. Haqqul yaqin sudah merasakan sendiri. Keyakinan yang sempurna. *** Penutup Demikian sedikit penjelasan yang bisa kami sajikan berkaitan dengan istilah ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama. Allahu a’lam. ___________________ Sumber Bacaan – Ilmul-Yaqin wa Haqqul Yaqin wa Ainul-Yaqin. Syeikh Jamal bin Abdul Aziz ar-Rabi’i.

ilmu yakin kepada allah